Puasa Dzulhijjah Hari ke-4: Niat, Tata Cara, dan Boleh Digabung Qadha? Cek di Sini!
Bulan Dzulhijjah adalah momen spesial buat umat Islam, terutama di sepuluh hari awalnya. Banyak amalan sunnah yang dianjurkan, salah satunya adalah puasa sunnah yang pahalanya berlipat ganda. Salah satu hari yang dimaksud adalah hari ke-4 di bulan Dzulhijjah. Tapi, gimana kalau kita masih punya utang puasa Ramadhan yang belum diganti? Muncul pertanyaan, boleh nggak sih puasa sunnah Dzulhijjah ini digabung niatnya sama puasa qadha Ramadhan? Yuk, kita cari tahu jawabannya biar ibadah makin mantap!
Di sisi lain, nggak sedikit dari kita yang masih punya kewajiban mengganti (qadha) puasa Ramadhan yang tertinggal. Utang puasa ini bisa karena berbagai alasan yang dibolehkan syariat, seperti sakit, haid, atau kondisi lainnya. Sementara itu, kesempatan emas di bulan Dzulhijjah terasa sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa puasa sunnah. Ini yang seringkali bikin bingung, harus pilih salah satu atau bisa menjalankan keduanya dengan satu ibadah puasa?
Pertanyaan mengenai menggabungkan niat puasa wajib (qadha) dengan puasa sunnah (Dzulhijjah) ini memang sering muncul. Tujuannya tentu untuk memaksimalkan ibadah di waktu yang mulia. Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa menjalankan kewajiban sekaligus meraih keutamaan sunnah yang dijanjikan.
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Dzulhijjah dan Qadha Ramadhan?¶
Menurut penjelasan para ulama, ternyata ada kabar baik buat kita semua. Orang yang berpuasa pada hari yang disunnahkan berpuasa, meskipun niatnya adalah untuk mengganti puasa wajib (qadha Ramadhan), insya Allah tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnahnya. Jadi, satu ibadah bisa menggugurkan utang puasa sekaligus mendulang pahala sunnah.
Pandangan ini disepakati oleh beberapa ulama terkemuka. Di antaranya adalah Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, dan Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami. Bahkan, pendapat ini dianggap sebagai pendapat yang mu’tamad atau kuat di kalangan ulama.
Dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin, dan juga nash yang terdapat pada Asnal Mathalib serta karya ulama lainnya seperti Al-Khatib As-Syarbini, Syekh Sulaiman Al-Jamal, dan Syekh Ar-Ramli, bahwa puasa sunnah pada hari-hari tertentu memang dianjurkan untuk hari-hari tersebut. Namun, jika seseorang berpuasa dengan niat lain (misalnya qadha atau nazar) pada hari-hari istimewa itu, dia tetap mendapatkan keutamaan puasa sunnah di hari tersebut.
Singkatnya, orang yang berpuasa di hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa sunnah, seperti di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, akan mendapatkan keutamaan puasa sunnah pada hari itu meskipun niat utamanya adalah qadha puasa Ramadhan atau puasa nazar. Pahala dan keutamaan keduanya bisa didapat sekaligus. Ini tentu sangat memudahkan bagi kita yang masih memiliki utang puasa Ramadhan.
Prioritas Qadha atau Digabung?¶
Meskipun menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah Dzulhijjah itu sah dan dobel pahalanya, sebagian ulama tetap menyarankan agar kita mendahulukan puasa qadha jika memungkinkan. Menyelesaikan utang puasa wajib itu hukumnya lebih kuat dibandingkan puasa sunnah.
Namun, ada pengecualian penting. Jika utang puasa Ramadhan itu baru teringat atau terasa mendesak menjelang hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), maka sangat dianjurkan untuk membayar qadha puasa di hari Arafah tersebut. Dengan begitu, kita tidak hanya melunasi utang puasa wajib, tapi juga mendapatkan keutamaan puasa hari Arafah yang sangat besar, yaitu bisa menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
Jadi, fleksibilitas ini diberikan untuk memudahkan umat Islam dalam beribadah. Bisa digabung untuk meraih dua keutamaan sekaligus, namun jika ingin lebih hati-hati, dahulukan qadha. Dan jika waktu sudah mendesak menjelang hari-hari mulia Dzulhijjah, menggabungkan niat qadha dengan puasa sunnah di hari tersebut adalah pilihan yang sangat baik.
Lafal Niat Puasa Dzulhijjah¶
Berikut adalah beberapa lafal niat puasa yang bisa Anda gunakan, tergantung pada kondisi puasa yang ingin dijalankan:
Niat Menggabungkan Puasa Qadha Ramadhan dan Sunnah Dzulhijjah¶
Lafal niat ini bisa digunakan jika Anda ingin menggabungkan kedua puasa tersebut dalam satu ibadah. Niat ini diucapkan pada malam hari sebelum berpuasa, atau bisa juga dilafalkan pada pagi hari sebelum tergelincir matahari (masuk waktu Zuhur) asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sunnah.
نويت صوم غد عن قضاء فرض شهر رمضان وسنة شهر ذو الحجة لله تعالى
Nawaitu shauma ghadin’an qadhai fardhi syahri Ramadhana wa sunnati syahri Dzulhijjah lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya berniat melakukan puasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa di bulan Ramadhan dan sunnah puasa di bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Qadha Ramadhan Saja¶
Jika Anda hanya berfokus pada qadha puasa Ramadhan tanpa menggabungkannya dengan niat puasa sunnah, lafal niat ini yang diucapkan pada malam hari sebelum berpuasa. Meskipun niatnya hanya qadha, sebagaimana penjelasan di atas, insya Allah keutamaan puasa sunnah di hari Dzulhijjah tetap didapat jika dilakukan pada hari-hari tersebut.
نويت صوم غد عن قضاء فرض رمضان لله تعالى
Nawaitu shauma ghodin an qadho’i fardli Ramadhana Lillahi Ta’ala
Artinya: “Saya niat berpuasa besok dari mengqadha’ fardu ramadhan Lillaahi ta’ala.”
Niat Puasa Sunnah Dzulhijjah Saja (untuk Hari Ini)¶
Nah, kalau Anda hanya berniat puasa sunnah Dzulhijjah untuk hari tersebut (misalnya hari ke-4 Dzulhijjah) dan tidak memiliki utang puasa qadha Ramadhan, lafal niat ini dibaca pada malam harinya atau bahkan sampai sebelum masuk waktu Zuhur jika belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sunnah.
نويت صوم هذا اليوم عن أداء شهر ذي الحجة سنة لله تعالى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah hari ini karena Allah ta’âlâ.”
Perbedaan lafal niat “ghadin” (besok) dan “hâdzal yaumi” (hari ini) pada dasarnya sama-sama sah selama diucapkan pada waktunya. Niat puasa wajib (qadha) lebih utama dilafalkan malam hari dengan kata “ghad”, sementara niat puasa sunnah bisa dilafalkan sampai siang hari jika belum melakukan pembatal puasa sunnah.
Tata Cara Puasa Dzulhijjah dan Qadha Ramadhan¶
Tata cara pelaksanaan puasa Dzulhijjah, baik yang diniatkan tunggal maupun digabung dengan qadha Ramadhan, pada dasarnya sama seperti puasa pada umumnya. Dimulai sejak terbit fajar shadiq (masuk waktu Subuh) hingga terbenam matahari (masuk waktu Magrib). Selama rentang waktu ini, kita wajib menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, dan berhubungan suami istri.
Dianjurkan untuk melakukan sahur di akhir waktu malam sebelum imsak. Sahur memberikan keberkahan dan kekuatan untuk menjalankan puasa seharian penuh. Jangan lupa membaca doa sahur untuk memohon keberkahan.
Saat waktu Magrib tiba, segerakan berbuka puasa dengan membaca doa buka puasa yang sesuai sunnah. Berbuka puasa adalah momen yang sangat dinantikan dan termasuk sunnah Nabi Muhammad SAW.
Selama berpuasa, perbanyaklah amal ibadah lainnya seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, bershalawat, bersedekah, dan menjaga lisan serta perilaku dari hal-hal buruk. Hindari ghibah, berkata kasar, atau melakukan perbuatan maksiat lainnya yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa. Dengan begitu, puasa kita menjadi lebih bermakna dan diterima oleh Allah SWT.
Keutamaan Puasa di Bulan Dzulhijjah¶
Penting untuk diingat betapa istimewanya puasa di 10 hari pertama Dzulhijjah ini. Periode ini dikenal sebagai hari-hari terbaik dalam setahun untuk beramal shalih. Nabi Muhammad SAW sendiri menganjurkannya secara langsung, bahkan menyebutkan dalam hadis riwayat Bukhari bahwa beramal shalih pada hari-hari ini lebih dicintai Allah daripada beramal shalih di hari lainnya.
Salah satu bentuk amal shalih yang paling utama adalah puasa. Puasa di hari-hari awal Dzulhijjah, terutama hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah), memiliki keutamaan yang sangat besar. Hari Arafah sendiri adalah puncak dari ibadah haji, di mana para jamaah haji berkumpul di Padang Arafah. Bagi yang tidak berhaji, disunnahkan berpuasa di hari tersebut.
Jadi, manfaatkan momen emas ini sebaik-baiknya. Baik dengan puasa sunnah Dzulhijjah saja, mengqadha puasa Ramadhan, atau menggabungkan keduanya untuk meraih pahala yang berlimpah di hari-hari yang sangat dicintai Allah SWT ini.
Gimana, udah jelas kan soal puasa Dzulhijjah dan kemungkinan menggabungkannya dengan qadha? Jangan sia-siakan kesempatan di bulan mulia ini ya! Kalau ada pertanyaan, pengalaman, atau tips menjalankan puasa di bulan Dzulhijjah, share di kolom komentar yuk biar kita bisa saling berbagi kebaikan!
Posting Komentar