Hijriah Hari Ini: 22 April 2025 & 4 Doa Iftitah yang Bisa Kamu Hafal!

Table of Contents

Kalender Hijriah 22 April 2025

Kita sebagai umat Islam di seluruh dunia punya patokan kalender sendiri dalam menjalankan ibadah, yaitu kalender Hijriah. Kalender ini penting banget buat menentukan kapan kita puasa sunnah, merayakan hari raya, atau bahkan memperingati peristiwa penting dalam sejarah Islam. Jadi, tahu tanggal Hijriah hari ini jadi sesuatu yang cukup fundamental.

Berbeda dengan kalender Masehi yang kita pakai sehari-hari, kalender Hijriah ini perhitungannya beda jauh lho. Kalender Hijriah patokannya adalah pergerakan Bulan mengelilingi Bumi. Siklus sinodik Bulan yang jadi dasar perhitungannya kira-kira 29 hari 12 jam 44 menit. Makanya, dibulatkan jadi 29,5 hari. Alhasil, satu tahun dalam kalender Hijriah itu minimal hanya 354 hari.

Nah, kalau kalender Masehi itu pakainya pergerakan Bumi mengelilingi Matahari. Sistem ini berdasarkan siklus tropis Matahari yang durasinya sekitar 365 hari 5 jam 48 menit. Makanya, jumlah hari dalam setahun Masehi jadi lebih banyak dibanding Hijriah, bedanya sekitar 10-11 hari setiap tahunnya. Ini yang menyebabkan tanggal-tanggal penting dalam Islam (kayak Ramadhan atau Idul Fitri) selalu maju di kalender Masehi setiap tahunnya.

Ada satu lagi perbedaan mendasar antara kedua kalender ini, yaitu soal pergantian hari. Kalau di kalender Masehi, hari baru dimulai pas jam 00.00 tengah malam. Tapi, di kalender Hijriah, pergantian hari itu terjadi saat Matahari terbenam alias waktu Maghrib tiba. Ini penting banget dipahami, terutama pas kita menentukan awal bulan baru.

Perbandingan Singkat Kalender Hijriah vs Masehi

Untuk memudahkan pemahaman, yuk kita lihat perbandingan singkat antara dua sistem kalender ini dalam tabel berikut:

Fitur Kalender Hijriah (Qomariyah) Kalender Masehi (Syamsiyah/Gregorian)
Dasar Perhitungan Peredaran Bulan mengelilingi Bumi Peredaran Bumi mengelilingi Matahari
Panjang 1 Bulan 29 atau 30 hari 30 atau 31 hari (Februari 28/29)
Panjang 1 Tahun 354 atau 355 hari 365 atau 366 hari
Pergantian Hari Saat Matahari terbenam (Waktu Maghrib) Pukul 00.00 tengah malam
Nama Bulan Muharram, Safar, dst. Januari, Februari, dst.
Kebutuhan Ibadah Sangat relevan untuk ibadah Kurang relevan untuk ibadah Islam

Memahami perbedaan ini membantu kita makin aware soal pentingnya kalender Hijriah dalam kehidupan beragama kita sehari-hari. Sekarang, yuk kita cek tanggal Hijriah untuk hari Selasa, 22 April 2025!

Tanggal Hijriah Hari Ini: 22 April 2025

Untuk mengetahui tanggal Hijriah yang tepat, biasanya kita merujuk pada otoritas keagamaan atau pemerintah yang melakukan perhitungan (hisab) dan pengamatan (rukyatul hilal). Di Indonesia, setidaknya ada tiga pihak utama yang jadi rujukan: Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Pemerintah melalui Kementerian Agama.

Menariknya, untuk tanggal ini, ketiganya sepakat!

Tanggal Hijriah 22 April 2025 Menurut NU

NU biasanya menggunakan gabungan metode hisab dan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Qomariyah. Keputusan akhir penetapan awal bulan, terutama bulan-bulan penting seperti Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah, diputuskan melalui sidang isbat yang melibatkan ulama dan ahli hisab-rukyat.

Dikutip dari informasi resmi, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebelumnya telah menetapkan 1 Syawal 1446 Hijriah jatuh pada hari Senin Pahing, 31 Maret 2025 Masehi. Penetapan ini didasarkan pada hasil pemantauan hilal yang dilakukan pada hari Sabtu, 29 Maret 2025, yang mana hilal tidak terlihat di berbagai lokasi pengamatan.

Sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, jika hilal tidak terlihat pada tanggal 29 bulan berjalan (dalam hal ini, akhir Ramadhan), maka bulan tersebut digenapkan harinya menjadi 30. Proses penggenapan hari ini dikenal dengan istilah istikmal. Karena hilal tidak terlihat di akhir Ramadhan 1446 H pada 29 Maret 2025, maka bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari.

Dengan istikmal tersebut, hari pertama bulan Syawal 1446 H menurut NU adalah sehari setelah 30 Ramadhan, yaitu pada Senin, 31 Maret 2025. Meskipun 1 Syawal jatuh pada Senin, secara perhitungan hari Hijriah, awal Syawal sudah dimulai sejak malam Minggu, 30 Maret 2025, setelah waktu Maghrib. Jadi, tanggal 31 Maret 2025 Masehi bertepatan dengan 1 Syawal 1446 H.

Maka, untuk mengetahui tanggal Hijriah pada 22 April 2025, kita tinggal menghitung selisih hari dari 1 Syawal 1446 H (31 Maret 2025). Dari 31 Maret ke 22 April itu ada berapa hari?

  • Sisa hari di Maret (dari tanggal 31): 1 hari (tanggal 31 itu sendiri)
  • Hari di April: 22 hari

Jumlah total hari dari 31 Maret hingga 22 April adalah 1 + 22 = 23 hari.

Jadi, berdasarkan perhitungan dari 1 Syawal 1446 H yang jatuh pada 31 Maret 2025, tanggal 22 April 2025 Masehi bertepatan dengan 23 Syawal 1446 Hijriah.

Tanggal Hijriah 22 April 2025 Menurut Muhammadiyah

Muhammadiyah memiliki metode perhitungan yang berbeda, yaitu murni menggunakan hisab hakiki wujudul hilal. Metode ini menetapkan awal bulan berdasarkan apakah bulan baru (hilal) sudah wujud atau sudah ada di atas ufuk (horizon) saat Matahari terbenam pada tanggal 29 bulan berjalan, berapapun ketinggian hilalnya.

Berdasar Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah, PP Muhammadiyah juga telah menetapkan 1 Syawal 1446 H jatuh pada 31 Maret 2025 Masehi.

Maklumat tersebut menjelaskan bahwa pada hari Sabtu, 29 Maret 2025 Masehi, bertepatan dengan 29 Ramadhan 1446 H, kondisi bulan saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk (belum wujud). Karena kriteria wujudul hilal belum terpenuhi, maka bulan Ramadhan 1446 H digenapkan menjadi 30 hari.

Dengan penggenapan Ramadhan menjadi 30 hari, otomatis hari berikutnya, yaitu Ahad, 30 Maret 2025 Masehi, menjadi 30 Ramadhan 1446 H. Dan hari setelahnya, Senin, 31 Maret 2025 Masehi, ditetapkan sebagai 1 Syawal 1446 H.

Bunyi keterangan dalam maklumat tersebut secara jelas menyebutkan, “Di wilayah Indonesia tanggal 1 Syawal 1446 H jatuh pada hari Senin Pahing, 31 Maret 2025 M.”

Menggunakan titik awal 1 Syawal 1446 H pada 31 Maret 2025 ini, perhitungan untuk 22 April 2025 Masehi akan sama persis dengan perhitungan sebelumnya. Selisih hari dari 31 Maret ke 22 April adalah 23 hari.

Sehingga, menurut Muhammadiyah, tanggal 22 April 2025 Masehi juga bertepatan dengan 23 Syawal 1446 Hijriah.

Tanggal Hijriah 22 April 2025 Menurut Pemerintah

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Agama, juga menggunakan metode gabungan hisab dan rukyatul hilal, dengan keputusan akhir ditentukan dalam sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak. Sidang isbat ini bertujuan untuk menyatukan pandangan dan menetapkan awal bulan Hijriah secara resmi bagi seluruh umat Islam di Indonesia.

Dilansir dari informasi resmi Kementerian Agama, Pemerintah telah menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1446 H pada hari Sabtu, 29 Maret 2025, di Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Hasil dari sidang isbat tersebut secara bulat menetapkan bahwa 1 Syawal 1446 H jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025.

Menteri Agama dalam konferensi pers hasil sidang isbat menyatakan, “Sidang isbat secara bulat menetapkan 1 Syawal 1446 H jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025.” Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan hasil hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai lokasi di Indonesia yang menunjukkan bahwa hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan oleh pemerintah.

Konfirmasi ini juga bisa detikers temukan dalam Kalender Hijriah Tahun 2025 yang resmi dirilis oleh Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama. Dalam kalender tersebut, tercatat jelas bahwa 31 Maret 2025 Masehi bertepatan dengan 1 Syawal 1446 H.

Oleh karena 1 Syawal 1446 H jatuh pada 31 Maret 2025 Masehi menurut pemerintah, maka perhitungan tanggal Hijriah untuk 22 April 2025 pun akan menghasilkan tanggal yang sama. Selisih 23 hari dari 1 Syawal.

Kesimpulannya, baik menurut NU, Muhammadiyah, maupun Pemerintah, tanggal 22 April 2025 Masehi bertepatan dengan 23 Syawal 1446 Hijriah. Alhamdulillah, untuk momen ini tidak ada perbedaan penetapan tanggal antara berbagai pihak di Indonesia, sehingga umat Islam bisa menjalankan ibadahnya dengan tenang.

Mengenal Doa Iftitah dalam Sholat

Setelah kita tahu tanggal Hijriah hari ini, yuk kita bahas hal penting lainnya dalam ibadah sholat, yaitu Doa Iftitah. Iftitah secara bahasa artinya ‘pembukaan’. Jadi, doa iftitah adalah doa pembukaan yang dibaca di awal sholat, tepatnya setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca surat Al-Fatihah.

Membaca doa iftitah dalam sholat hukumnya sunnah menurut pendapat mayoritas ulama (jumhur ulama). Meskipun sunnah, sangat dianjurkan untuk membacanya karena ini adalah salah satu tuntunan dari Nabi Muhammad SAW. Doa ini menjadi semacam ‘pemanasan’ spiritual sebelum kita masuk ke inti bacaan sholat (Al-Fatihah dan surat lainnya).

Ada berbagai macam redaksi doa iftitah yang diriwayatkan dalam hadits-hadits shahih dari Nabi SAW. Keragaman ini menunjukkan kekayaan ajaran Islam dan memberikan pilihan bagi kita untuk mengamalkan yang mana saja yang kita hafal atau sukai. Semuanya baik dan diajarkan oleh Nabi SAW.

Fungsi utama doa iftitah adalah untuk memuji, mengagungkan, dan mengakui kebesaran Allah SWT, serta memohon ampunan dan petunjuk kepada-Nya di awal sholat. Dengan membaca doa ini, kita seolah sedang ‘berkomunikasi’ lebih awal dengan Allah, membersihkan hati, dan menyiapkan diri untuk khusyuk dalam sholat. Ini adalah momen penting untuk menata niat dan fokus hanya kepada Allah.

Meskipun sunnah, ada kondisi di mana doa iftitah ini tidak dibaca, misalnya jika seseorang masbuk (terlambat sholat) dan langsung bergabung dengan imam yang sudah membaca Al-Fatihah atau surat. Dalam kondisi seperti itu, mendahulukan bacaan wajib (mengikuti imam) lebih utama daripada membaca doa sunnah (iftitah).

Nah, dari sekian banyak riwayat doa iftitah, ada beberapa yang cukup populer dan sering diamalkan oleh umat Islam. Mari kita lihat empat macam bacaan doa iftitah yang bisa kamu hafal dan amalkan, diambil dari sumber terpercaya:

Doa Iftitah #1

Doa iftitah yang pertama ini dikenal luas dan diriwayatkan dalam hadits Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA. Doa ini fokus pada permohonan pembersihan diri dari dosa-dosa, memohon kepada Allah untuk menjauhkan kita dari kesalahan sebagaimana Allah menjauhkan timur dari barat, dan membersihkan kita dari dosa seperti bersihnya pakaian putih dari noda.

Berikut bacaannya:

اَللّٰهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اَللّٰهُمَّ نَقِّنِيْ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ اَللّٰهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنَ الْخَطَايَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Arab Latin: Allahumma bā’id bainī wa baina khathāyāya kamā bā’adta bainal-masyriqi wal-magribi allahumma naqqinī minal-khathāyā kamā yunaqqas-tsaubul-abyadhu minad-danasi allahummagsilnī minal-khathāyā bil-mā’i wats-tsalji wal-barad.

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dengan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dengan barat. Ya Allah, bersihkan aku dari dosa-dosaku sebagaimana terbersihkannya baju putih dari noda (yang mengenainya). Ya Allah, cucilah diriku dari dosa-dosaku dengan air, salju, dan embun.”

Doa ini sangat indah karena menggunakan perumpamaan yang mudah dipahami untuk menggambarkan betapa kita sangat membutuhkan pembersihan total dari dosa-dosa kita sebelum menghadap Allah dalam sholat. Perumpamaan salju dan embun menunjukkan kesucian dan kesejukan yang membersihkan.

Doa Iftitah #2

Doa iftitah yang kedua ini memiliki redaksi yang cukup panjang dan penuh makna, merupakan salah satu riwayat dari Nabi SAW yang dibaca saat sholat malam (shalatullail). Doa ini berisi pujian kepada Allah sebagai Rabb para malaikat besar (Jibril, Mikail, Israfil), Pencipta langit dan bumi, serta pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Pemberi Petunjuk. Doa ini sangat kuat dalam permohonan petunjuk ke jalan yang lurus, terutama dalam menghadapi perbedaan pendapat.

Berikut bacaannya:

اَللّٰهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

Arab Latin: Allahumma rabba jibrā’īla wa mīkā’īla wa isrāfīla fāthiras-samawāti wal-ardhi ‘ālimal-gaibi wasy-syahādati anta taḥkumu baina ‘ibādika fīmā kānū fīhi yakhtalifuun, ihdinī limakhtulifa fīhi minal-ḥaqqi bi’iżnika innaka tahdī man tasyā’u ilā shirāthim-mustaqīm.

Artinya: “Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail, dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki.” (HR. Muslim)

Doa ini menunjukkan kerendahan hati seorang hamba di hadapan kebesaran Allah dan pengakuan bahwa petunjuk kebenaran mutlak datangnya hanya dari Allah. Membacanya di awal sholat mengingatkan kita bahwa tujuan hidup adalah mencari kebenaran dan memohon agar Allah selalu membimbing kita di jalan-Nya.

Doa Iftitah #3

Doa iftitah ketiga ini mungkin adalah yang paling populer dan paling sering didengar, terutama saat sholat berjamaah di masjid. Redaksinya singkat, padat, dan sangat powerful dalam menyatakan kebesaran dan pujian kepada Allah. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Ibnu Umar RA, doa ini adalah bentuk pengagungan (takbir), pujian (tahmid), dan penyucian (tasbih) kepada Allah SWT.

Berikut bacaannya:

اَللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

Arab Latin: Allahu akbar kabīrā wal-ḥamdulillāhi kaṡīrā wa subḥānallāhi bukrataw-wa ashīlā.

Artinya: “Allah Maha Besar, aku mengagungkan-Nya dengan sebenar-benar pengagungan. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah pada pagi dan sore hari (dalam seluruh waktu).” (HR. Muslim dari Ibnu Umar)

Doa ini sangat mudah dihafal dan diamalkan. Mengandung pernyataan takbir (“Allahu akbar kabīrā”), tahmid (“wal-ḥamdulillāhi kaṡīrā”), dan tasbih (“wa subḥānallāhi bukrataw-wa ashīlā”), yang merupakan inti dari zikir dan pengagungan kepada Allah. Mengucapkan ini di awal sholat langsung membawa hati kita pada kesadaran akan kebesaran Allah.

Doa Iftitah #4

Doa iftitah keempat ini juga cukup ringkas dan mudah dihafal. Mirip dengan doa tasbih dan tahmid, doa ini fokus pada pensucian nama Allah, pengakuan akan keberkahan nama-Nya, ketinggian keagungan-Nya, dan penegasan bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Dia. Doa ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud.

Berikut bacaannya:

سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ

Arab Latin: Subḥānakallahumma wa biḥamdika, wa tabārakasmuk, wa ta’ālā jadduka, wa lā ilāha gairuk.

Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha Berkah nama-Mu, Maha Tinggi keagungan dan kebesaran-Mu, tiada Ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Daud no. 775)

Doa ini merupakan deklarasi tauhid yang kuat di awal sholat. Mengingatkan kita bahwa segala puji dan kesucian hanya milik Allah, nama-Nya penuh keberkahan, dan Dialah satu-satunya Rabb yang patut disembah. Membacanya menguatkan keyakinan kita sebelum kita mulai berkomunikasi lebih lanjut dengan-Nya dalam bacaan Al-Fatihah.

Kamu bisa memilih salah satu dari keempat doa iftitah ini untuk dibaca dalam setiap sholatmu. Mengganti-ganti bacaannya sesekali juga baik, agar kita mengamalkan semua riwayat yang shahih dari Nabi SAW dan memahami beragam maknanya. Yang terpenting, bacalah dengan penuh pemahaman dan kekhusyukan agar sholat kita semakin berkualitas.

Itulah rangkuman informasi tentang kalender Hijriah hari ini, 22 April 2025, yang bertepatan dengan 23 Syawal 1446 H menurut kesepakatan berbagai pihak di Indonesia, beserta empat pilihan bacaan doa iftitah yang bisa kamu hafal dan amalkan dalam sholat sehari-hari.

Semoga informasi ini bermanfaat dan menambah semangat kita dalam menjalankan ibadah ya, detikers!

Gimana, sudah hafal doa iftitah yang mana nih? Atau punya pengalaman menarik saat mencoba menghafal doa-doa ini? Share di kolom komentar dong!

Posting Komentar