Kenalan Yuk Sama Syekh Nurjati, Sosok Penting di Balik Islamnya Cirebon!

Table of Contents

Kenalan Yuk Sama Syekh Nurjati

Kamu tahu nggak sih, kalau Cirebon itu punya sejarah Islam yang panjang dan kaya? Nah, di balik itu semua, ada sosok penting banget yang jadi perintis dakwah Islam di sana, namanya Syekh Nurjati. Beliau ini ulama mazhab Syafi’i yang juga dikenal sebagai gurunya para wali. Keren kan? Syekh Nurjati nggak cuma jago soal ilmu agama, tapi juga ngajarin nilai-nilai spiritual lewat tarekat Syattariah yang berkembang pesat di Cirebon.

Bukan Cuma Sunan Gunung Jati

Mungkin kalau ngomongin Islam Cirebon, yang langsung kebayang di kepala kita pasti Sunan Gunung Jati ya? Memang sih, Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah itu tokoh sentral banget. Tapi, proses Islamisasi di Cirebon itu udah dimulai jauh sebelum beliau berdakwah lho. Jadi, ada pionir sebelumnya yang membuka jalan, dan salah satunya ya Syekh Nurjati ini.

Menurut seorang ahli bernama Susanto Zuhdi, metode dakwah Syekh Nurjati itu unik banget. Beliau menggunakan pendekatan dialektika budaya. Maksudnya, Syekh Nurjati itu pinter banget memadukan ajaran Islam dengan budaya dan kepercayaan lokal yang udah ada di Cirebon sebelumnya. Jadi, Islam itu nggak terasa asing atau bertentangan, tapi justru jadi bagian dari kearifan lokal.

Syekh Nurjati ini sosok ulama yang punya tradisi keilmuan yang kuat. Beliau berhasil menyinergikan antara sufisme dan syariah, dua dimensi penting dalam agama Islam. Dimensi eksoterik atau syariah itu kan lebih ke aturan-aturan agama yang lahiriah, kayak ibadah dan hukum-hukum. Sementara dimensi esoterik atau tasawuf itu lebih ke batiniah, soal spiritualitas dan mendekatkan diri pada আল্লাহ. Syekh Nurjati bisa menggabungkan keduanya dalam bingkai budaya lokal Cirebon. Wah, keren banget ya!

Perjalanan dari Baghdad ke Cirebon

Perjalanan dari Baghdad ke Cirebon

Terus, siapa sih sebenarnya Syekh Nurjati ini? Dari mana asalnya? Kabarnya, beliau lahir di Semenanjung Malaka sekitar abad ke-14 atau 15. Waktu masih muda, beliau pergi ke Mekah untuk menuntut ilmu dan berhaji. Bayangin deh, zaman dulu perjalanan ke Mekah pasti jauh dan berat banget ya.

Nggak cuma di Mekah, Syekh Nurjati juga sempat tinggal di Baghdad, yang sekarang jadi ibukota Irak. Pada abad ke-14 dan 15 itu, Baghdad lagi jaya-jayanya lho. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, banyak filosof muslim hebat lahir di sana. Suasana intelektual di Baghdad ini pasti ikut membentuk pemikiran Syekh Nurjati jadi luas dan terbuka. Ini juga yang bantu beliau lancar berdakwah nantinya.

Di Baghdad, Syekh Nurjati ketemu jodohnya, namanya Syarifah Halimah. Mereka punya anak-anak dan kemudian memutuskan untuk berdakwah. Dari Baghdad, Syekh Nurjati dan rombongannya berkelana sampai akhirnya tiba di Pesambangan, yang dulunya bagian dari Nagari Singapura (sekarang Desa Mertasinga, Kabupaten Cirebon).

Waktu itu, Syekh Nurjati datang bersama rombongan dari Baghdad, ada sepuluh laki-laki dan dua perempuan. Mereka sampai di Muara Jati sekitar tahun 1420 Masehi. Rombongan ini diterima sama penguasa pelabuhan Muara Jati, namanya Ki Gedeng Tapa atau Ki Mangkubumi Jumajan Jati. Syekh Nurjati dapat izin dari Ki Gedeng Tapa untuk tinggal di Pesambangan, tepatnya di sebuah bukit kecil bernama Giri Amparan Jati.

Di tempat barunya ini, Syekh Nurjati langsung aktif berdakwah. Beliau mengajak masyarakat sekitar untuk kenal dan memeluk agama Islam. Ternyata, banyak orang yang tertarik dan dengan tulus masuk Islam. Makin lama, pengikut Syekh Nurjati makin banyak. Dakwah beliau diterima dengan baik oleh masyarakat Cirebon.

Dalam berinteraksi dengan masyarakat, Syekh Nurjati akhirnya menikah lagi dengan Hadijah, cucu dari Haji Purwa Galuh atau Raden Bratalegawa. Haji Purwa Galuh ini tokoh penting juga lho, beliau orang pertama dari Jawa Barat (dulu masih Kerajaan Galuh) yang pergi berhaji.

Pendekatan dakwah Syekh Nurjati yang lembut dan penuh kearifan berhasil menarik perhatian tokoh-tokoh penting. Salah satunya Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang, dua putra-putri Raja Pajajaran. Mereka berdua kelak jadi tokoh penting dalam sejarah Cirebon dan pendirian Walisongo. Keren ya, Syekh Nurjati bisa mempengaruhi tokoh-tokoh besar zaman itu.

Bangun Ponpes Tertua di Cirebon

Pondok Pesantren Pesambangan Jati

Dari pernikahannya dengan Hadijah, Syekh Nurjati dikaruniai seorang putri bernama Nyi Ageng Muara. Nyi Ageng Muara ini nanti menikah dengan Ki Gede Krangkeng. Krangkeng sendiri sekarang jadi nama kecamatan di Kabupaten Indramayu. Syekh Nurjati dan istrinya, Hadijah, kemudian mendirikan pondok pesantren bernama Pesambangan Jati.

Pondok Pesantren Pesambangan Jati ini punya sejarah panjang banget. Konon, pesantren ini adalah pesantren tertua di wilayah Cirebon (dulu Nagari Singapura) dan tertua kedua di Jawa Barat (dulu Kerajaan Galuh). Pesantren tertua pertama di Jawa Barat itu Pondok Pesantren Quro di Karawang, yang didirikan oleh Syekh Quro atau Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah. Banyak banget ya namanya hehe.

Oh iya, Syekh Quro ini ternyata saudara sepupu dari Syarifah Halimah, istri pertama Syekh Nurjati. Syekh Quro juga utusan dari Raja Campa. Kalau ditarik garis keturunan, Syekh Quro dan Syekh Nurjati ini sama-sama keturunan dari Amir Abdullah Khanudin generasi keempat. Jadi, masih saudara dekat gitu deh. Syekh Quro datang ke Amparan lebih dulu, bareng rombongan angkatan laut Cina dari Dinasti Ming yang ketiga, zaman Kaisar Yung Lo.

Jejak Syekh Nurjati dalam Naskah Kuno

Naskah Kuno Cirebon

Kisah perjalanan dakwah Syekh Nurjati ini bisa kita temukan dalam naskah-naskah tradisi Cirebon. Memang sih, naskah-naskah ini termasuk bukti sekunder, tapi tetep penting buat memahami sejarah. Naskah-naskah ini ada yang bentuknya prosa, kayak Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, dan Sejarah Cirebon. Ada juga yang bentuknya tembang atau puisi, contohnya Carub Kanda, Babad Cirebon, Babad Cerbon terbitan S.Z. Hadisutjipto, Wawacan Sunan Gunung Jati, Naskah Mertasinga, Naskah Kuningan, dan Naskah Pulasaren. Banyak banget ya naskahnya!

Dari sekian banyak naskah itu, cuma Babad Cirebon terbitan Brandes aja yang nggak nyebut-nyebut soal Syekh Nurjati. Naskah tertua yang nulis tentang Syekh Nurjati itu dibuat sama Arya Cerbon tahun 1706 Masehi. Ini bukti kalau Syekh Nurjati emang tokoh penting yang diingat dalam sejarah Cirebon.

Syekh Nurjati sendiri pakai nama Syekh Nurjati pas lagi berdakwah di Giri Amparan Jati. Tempat ini lebih terkenal dengan nama Gunung Jati, bukit kecil yang sebenarnya terdiri dari dua bukit. Lokasinya sekitar 5 kilometer sebelah utara Kota Cirebon, tepatnya di Desa Astana Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon. Sebelumnya, Syekh Nurjati dikenal dengan nama Syekh Datul Kahfi atau Maulana Idhofi Mahdi. Banyak juga ya nama beliau hehe.

Syekh Nurjati wafat sekitar tahun 1480-an sampai 1490-an. Tapi, pengaruh beliau nggak berhenti sampai generasi awal dakwahnya aja lho.

Warisan Dakwah yang Terus Mengalir

Sunan Gunung Jati dan Syekh Abdurakhman

Anak-anak Syekh Nurjati, kayak Syekh Abdurakhman yang kelak bergelar Pangeran Panjunan dan Fatimah yang menikah dengan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), nerusin warisan dakwah beliau. Mereka punya misi besar buat nyebarin agama Islam di seluruh Jawa Barat sampai ke wilayah Banten.

Tali silaturahmi yang udah dibangun Syekh Nurjati antara Cirebon dan Karawang juga jadi bukti keberhasilan beliau membangun hubungan harmonis dengan wilayah-wilayah sekitar. Ini jadi fondasi yang kuat buat masyarakat Islam di Nusantara. Jadi, Syekh Nurjati ini bukan cuma tokoh lokal Cirebon aja, tapi juga punya peran penting dalam sejarah Islam di Indonesia secara keseluruhan.

Gimana, jadi makin kenal kan sama Syekh Nurjati? Sosok ulama yang berjasa besar dalam menyebarkan Islam di Cirebon dan punya pengaruh luas. Yuk, kita terus belajar tentang sejarah Islam di Indonesia, banyak banget tokoh-tokoh hebat yang bisa jadi inspirasi!

Nah, kalau kamu punya cerita atau informasi lain tentang Syekh Nurjati, jangan ragu buat berbagi di kolom komentar ya!

Posting Komentar