Inflasi Rendah RI: Senang Dulu, Bahaya Kemudian? Ini Penjelasannya!
Wih, Kok Inflasi Rendah Malah Jadi Masalah? 🤔
image just illustration
Inflasi lagi adem ayem, tapi kok para ahli ekonomi malah panik? Denger-denger, inflasi yang rendah ini bukannya kabar baik, malah jadi sinyal bahaya buat perekonomian Indonesia. Penasaran? Yuk, kita simak bareng-bareng!
Inflasi Rendah: Kabar Baik atau Buruk?¶
Sejak Juni 2023, inflasi di Indonesia anteng di angka 3 persen, bahkan cenderung turun terus tiap bulannya. BPS (Badan Pusat Statistik) nyatetin kalau inflasi tahun 2024 cuma 1,57 persen year on year (yoy). Rendah banget, kan? Bahkan sampe deflasi alias harga-harga turun selama lima bulan berturut-turut dari Mei sampe September 2024. Awal 2025 juga sempet deflasi lagi, gara-gara tarif listrik turun.
Eh, tapi kok malah bikin cemas, ya?
Dua Masalah Besar di Balik Inflasi Rendah¶
Kata Andry Satrio Nugroho, Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, inflasi rendah ini bisa jadi tanda dua masalah gawat:
-
Daya Beli Masyarakat Melemah: Orang-orang pada ngerem belanja, nih. Mungkin karena duitnya ngepas atau emang lagi hemat.
-
Perekonomian Lesu: Industri manufaktur juga lagi loyo. Pertumbuhannya terus menurun dari tahun ke tahun.
Industri Loyo, PHK di Mana-Mana¶
Andry bilang, pemerintah kayaknya kurang perhatian sama masalah yang dihadapi industri. Akibatnya, PHK terjadi di mana-mana. Banyak yang kehilangan pekerjaan, daya beli masyarakat makin lemah, dan akhirnya orang-orang jadi kurang belanja. Jadinya, barang yang ditawarkan lebih banyak daripada yang dibeli. Gimana ekonomi mau tumbuh kalau begini terus?
Pak Prabowo, Tolong Turun Tangan!¶
Andry juga nyentil Presiden Prabowo Subianto buat turun tangan langsung. Katanya, perlu ada langkah extraordinary biar kondisi ini nggak makin parah. Pemerintah harus punya target yang jelas buat ningkatin pertumbuhan industri dan lebih gencar lagi ngedorong hilirisasi. Kalau nggak, target pertumbuhan ekonomi 5 persen bisa jadi cuma mimpi.
PHK Bikin Konsumsi Loyo¶
Nailul Huda, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), punya analisis lain. Menurutnya, inflasi rendah ini gara-gara konsumsi masyarakat turun akibat PHK. Harusnya, kalau ekonomi lagi bagus, permintaan dan konsumsi juga ikut naik, dong. Apalagi gaji dan jumlah penduduk juga naik. Tapi, kenyataannya malah nggak gitu.
image just illustration
Huda bilang, kondisi kayak gini mirip sama yang terjadi pas krisis ekonomi global tahun 2009 dan pandemi Covid-19. Waktu itu, daya beli masyarakat anjlok banget. Nah, yang bikin dia heran, sekarang kan nggak ada krisis besar kayak dulu. Kok inflasinya bisa rendah juga, ya?
Pemerintah Harus Kasih Insentif!¶
Huda ngasih saran ke pemerintah buat ngasih insentif biar daya beli masyarakat naik lagi. Contohnya, kayak Vietnam yang nurunin tarif PPN atau India yang nurunin PTKP dan PPh karyawan. Kalau daya beli naik, permintaan juga ikut naik, dan inflasi pun bisa kembali normal.
Gimana nih, pendapat kamu? Setuju nggak sama analisis para ahli ini? Atau punya ide lain buat ningkatin inflasi dan ngebantu perekonomian Indonesia? Share di kolom komentar, ya! Jangan lupa juga buat follow biar kamu nggak ketinggalan info-info penting lainnya. 😉
Posting Komentar